TAKAHIRO, seorang penari yang menjadi penanggungjawab koreografi seluruh single Keyakizaka46 hingga saat ini, dan terlibat dalam produksi konser di tur musim panas pertama. Berkaitan dengan penampilan mereka, seperti apakah perubahan yang dia rasakan. Hal yang terlihat dari mereka yang berhadapan dengan batasan mereka sendiri, adalah sosok yang ingin menciptakan sendiri sebuah grup bernama Keyakizaka46.

– Tahun ini adalah 1 tahun yang sangat padat, baik itu bagi member maupun TAKAHIRO-san. Saat melihat kembali tahun 2017, perkembangan seperti apakah yang anda rasakan dari mereka?

TAKAHIRO: Kalau tahun lalu ada rasa kebersamaan yang kuat, maka tahun ini saya merasakan lahirnya sebuah daya tarik “individu di dalam kebersamaan”. Saya sudah bersama mereka sejak mereka masih pemula, tahun ini mereka memperhatikan satu sama lain secara lebih mendalam, setiap member bisa mengutarakan pendapat mereka dengan terus terang. Sambil tetap mengutamakan kepentingan grup, ada hal-hal yang ingin mereka lakukan sebagai individu, ada hal-hal yang mereka pikirkan sebagai individu. Di dalam sebuah identitas bernama Keyakizaka46, munculnya realitas individu mungkin adalah hal yang positif.

Oleh karena itu, hubungan mereka tidak berakhir dengan hanya hubungan senior-junior, mereka juga berusaha keras menghadapi masalah bersama-sama, mereka mengejar sebuah jawaban, saya merasakan kehebatan seorang seniman ekspresi dari mereka. Contohnya, sewaktu kesehatan Hirate-san memburuk di tur musim panas, pada umumnya orang-orang dari manajemen yang memikirkan solusinya, kemudian menyampaikannya pada member. Tapi, mereka justru ingin diberi waktu khusus untuk member, “kami ingin memikirkannya sendiri matang-matang”, mereka memutuskan untuk menari dengan membiarkan ada posisi yang terbuka, mereka mendiskusikan bagaimanakah solusi terbaik jika ada member yang kesehatannya memburuk, kemudian mereka menyampaikan pemikiran mereka pada kami.

Tentang tarian juga, sebelumnya jika ada seseorang yang ingin bertanya, mereka meminta bantuan member lain untuk menyampaikannya pada saya, tapi sekarang tiap member datang bertanya pada saya. Pemikiran dan perasaan mereka terhadap grup ini sungguh kuat, ditambah lagi perasaan bangga terhadap grup ini sudah mulai tumbuh, mereka sudah selangkah di depan memikirkan dan mencari bentuk yang ideal untuk grup ini, saya pikir tahun ini menjadi 1 tahun dimana member menciptakan Keyakizaka46.

– Pemikiran seperti itu apakah muncul setelah melalui tur musim panas?

TAKAHIRO: Setelah drama televisi “Zankoku na Kankyakutachi” berakhir, mereka dihadapkan pada “Keyaki Republic 2017”, beberapa hari kemudian ada gladi bersih tur musim panas, saya pikir mereka berada pada kondisi yang sangat berat. Dalam kondisi seperti itu, karena mereka membuat sesuatu secara bersama-sama, sudah pasti ada pertentangan di antara mereka, mungkin mereka mudah mengeluarkan uneg-uneg mereka. “Ayo melakukan pertunjukan yang menghibur kepada semua orang”, mereka memiliki tujuan yang solid, tapi jalan menuju hal tersebut sudah pasti ada 21 macam pemikiran, ada member yang ingin memperlihatkan estetika dari gerakan yang kompak, ada member yang ingin mengutamakan komunikasi kepada para penggemar. Tidak akan pernah ada habisnya jika harus memilih manakah pemikiran yang benar. Walaupun ada pertentangan pemikiran, saya merasa bahwa mereka melakukan yang terbaik dalam mencapai tujuan. Saya ingin menghadapi sekaligus menaruh respek pada tekad mereka yang kuat itu. Di saat genting atau saat mereka kehilangan fokus, saya pikir pada dasarnya mereka memilih sendiri jalan untuk terus maju ke depan.

– Bagaimana kesan anda terhadap Hiragana Keyaki?

TAKAHIRO: Mereka mendapat sedikit giliran tampil saat tur, melihat secara langsung Kanji Keyakizaka46 yang merupakan tujuan mereka yang berkilauan, saya pikir itu adalah hal yang berat bagi mereka. Karena mereka juga selalu dibanding-bandingkan dengan Kanji Keyakizaka46, mereka memikirkan bagaimana caranya agar membuat penggemar merasa tergerak, hal itu membuat kemampuan mereka di atas panggung, lalu kemampuan mereka dalam berekspresi meningkat secara perlahan. Selain itu, mereka selalu dipenuhi dengan aura kebahagiaan. Timing debut dan rata-rata usia mereka berdekatan dengan Kanji Keyaki, jadi sudah tentu mereka punya perasaan kesal jika dibanding-bandingkan dengan Kanji Keyakizaka. Tapi dalam kasus mereka, “Kami ingin bersinar dengan gaya kami sendiri!”, mereka punya ekspresi dengan perasaan yang lebih berkilauan, jadi mungkin hal itu yang melahirkan daya tarik mereka. Dua identitas Kanji Keyakizaka46 dan Hiragana Keyakizaka46 sudah terbentuk, lalu generasi kedua juga sudah bergabung, mungkin mereka akan menjadi grup yang lebih kuat lagi.

Seluruh member sudah merasakan posisi terdepan, sekaranglah saatnya menunjukkan kekuatan luar biasa dari grup…

– Perspektif dunia Keyakizaka46 yang dimulai dari “Silent Majority” dirangkum menjadi satu dalam album dan tur, saya merasa bahwa lagu terbaru “Kaze ni Fukaretemo” sedikit berbeda dari karya-karya selama ini. Perasaan seperti apakah yang anda masukkan ke dalam lagu ini?

TAKAHIRO: Memvisualisasikan isi lirik tetap menjadi hal yang terpenting. Lagu yang manapun selalu punya bagian yang berhubungan dengan “Hidup itu tidak selalu seperti yang diinginkan”, hanya saja “Silent Majority” mengekspresikan keberanian untuk menentang dan berkata “Tidak” pada hal tersebut, sedangkan “Kaze ni Fukaretemo” mengekspresikan kebesaran hati untuk menerima hal tersebut, “Siapapun tidak tahu hal yang akan terjadi di alam, jadi kenapa kita tidak mencoba untuk mengikuti aliran angin?”. Perasaan tersebut dimiliki oleh semua member, jadi saya merasa bahwa lagu ini adalah lagu yang menerangi masa depan mereka dalam 1 langkah ke depan. Karena itu, lagu kali ini “Kaze ni Fukaretemo”, poin utamanya adalah semua member menarikan koreografi yang sama. Jika semuanya kompak, maka kekuatan mereka akan terlihat, namun apabila ada yang gerakannya terlambat, pasti akan terlihat sangat mencolok.

Karena semua member sudah merasakan posisi terdepan, mungkin sekaranglah saatnya untuk mengekspresikan kekuatan dari Keyakizaka. Tiap individu sudah semakin menonjol, jadi saya pikir sekaranglah saatnya bagi mereka untuk memperlihatkan kekuatan hebat dari grup ini. Selain itu, dalam mengembangkan tarian yang dibutuhkan dalam rajutan cerita selama ini, saya juga memanfaatkan isi dari lagu itu sendiri. Contohnya, saya membuat formasi yang disebut formasi Musa di “Silent Majority”, Hirate-san berjalan di tengah-tengah formasi tersebut.

Di “Kaze ni Fukaretemo” sekalipun, saya sebenarnya juga membuat formasi yang sama, tapi saya menambahkan koreografi yang 1 tingkat lebih sulit ketika berputar membentuk formasi itu. Kedua lagu itu juga saling terhubung, pada awalnya Hirate-san berjalan di tengah barisan dengan membawa ego dan tekad yang kuat, namun kali ini dia menerima kerasnya realita yang menghempaskannya. Koreografi yang telah berkembang dapat juga menandakan bahwa semua member sedang menuju ke tahapan selanjutnya. Sosok Hirate-san yang meniup daun di awal penampilan di acara musik juga mengekspresikan tentang aliran waktu dan alam, mungkin saya telah berhasil membuat koreografi yang terhubung dengan “Futari Saison”.

– Terakhir, apa harapan anda pada Keyakizaka46 ke depannya?

TAKAHIRO: Mungkin akan lebih baik jika terjadi berbagai macam hal lainnya. Hal apapun akan selalu memunculkan hal yang baru, jadi saya ingin tertiup angin bersama dengan mereka. Saya akan melakukan hal terbaik yang bisa saya lakukan di jalan dimana kami diterbangkan.

PICKUP 1:
Bagian interlude “Fukyouwaon” mengekspresikan tentang penderitaan yang timbul dari masyarakat, hal itu digambarkan melalui gerakan Hirate yang seperti sedang dihancurkan di dalam sebuah lingkaran, kemudian Hirate berteriak “Aku tak sudi” seolah-olah berusaha melepaskan diri dari hal tersebut. Ide ini juga muncul di “Kaze ni Fukaretemo”, tapi sosok Hirate yang menari dengan lepas di tengah lingkaran adalah objeknya.

PICKUP 2:
Kostum saat menampilkan “Kaze ni Fukaretemo” adalah setelan jas, jadi mereka ditantang untuk menari dengan langkah yang cepat dan gerakan kaki yang terlihat jelas. Selain itu, semua member menarikan koreografi yang sama di bagian reff. Dengan memperlihatkan kekompakan semua member, hal itu akan menunjukkan rasa persatuan dari grup.

PICKUP 3:
Pose swastika yang ditarikan Sato Shiori di dance track saat One Man Live tahun lalu kembali muncul di “Hiraishin” dengan ditarikan oleh semua member. Selain itu, urutan member yang berdiri di barisan pertama sama persis dengan lagu “Tokyo Tower wa doko kara Mieru?”. Ide dari lagu sebelumnya yang juga muncul di lagu lainnya mengisyaratkan adanya keterkaitan cerita di antara lagu-lagu dengan kesamaan tersebut.

===============================================

(RAW: toomuchidea; TL: hunter934)

Share this...
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter